Kopdar Muktamar Bedah Panyirep Gemuruh: Menghidupkan Kembali Gagasan Mbah Wahab Chasbullah

  • Bagikan
Kopdar Muktamar Bedah Panyirep Gemuruh Menghidupkan Kembali Gagasan Mbah Wahab Chasbullah - nu times id

JOMBANG — Menjelang penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, geliat intelektual pesantren kembali menguat. Salah satunya melalui Kopdar Muktamar, sebuah forum literasi yang menghadirkan bedah buku Panyirep Gemuruh, karya yang mengulas pemikiran, perjuangan, dan warisan intelektual KH. Abdul Wahab Chasbullah.

Kegiatan ini akan diselenggarakan pada Sabtu, 29 Agustus 2026, pukul 19.26 WIB hingga selesai, bertempat di PP. Al-Mubtadi-ien Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Acara merupakan kolaborasi Pusat Studi Pesantren Jawa Timur (PSP), PSPK Maliki, dan Pesantren Bahrul Ulum, serta didukung oleh Al-Ishlahiyah, Dawuh Guru, dan Lesbumi.

Bagi warga Nahdliyin, nama Mbah Wahab Chasbullah bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah salah satu pendiri Nahdlatul Ulama yang meletakkan fondasi penting bagi tradisi keilmuan, organisasi, sekaligus nasionalisme pesantren. Lahir di Tambakberas, Jombang, pada 1888, Mbah Wahab dikenal sebagai ulama yang mampu menjembatani nilai-nilai klasik pesantren dengan dinamika masyarakat modern.

Sebelum NU resmi berdiri pada 1926, Mbah Wahab telah lebih dahulu menggagas berbagai gerakan kebangkitan umat. Ia mendirikan Tashwirul Afkar, ruang diskusi bagi para santri dan intelektual muda untuk memperbincangkan persoalan agama, sosial, hingga kebangsaan. Ia juga merintis Nahdlatul Wathan, gerakan yang menanamkan semangat cinta tanah air di kalangan generasi muda pesantren. Dari rahim gagasan itulah kemudian lahir berbagai organisasi yang menjadi bagian penting perjalanan NU hingga hari ini.

Tak berlebihan jika banyak sejarawan menyebut Mbah Wahab sebagai arsitek gerakan Nahdlatul Ulama. Di balik sosoknya yang sederhana, tersimpan keberanian berpikir, kecakapan berdiplomasi, dan keyakinan bahwa pesantren harus hadir sebagai kekuatan moral sekaligus kekuatan sosial bangsa.

Melalui buku Panyirep Gemuruh, pembaca diajak melihat sisi lain Mbah Wahab: bukan hanya sebagai pendiri organisasi, tetapi sebagai manusia yang menenangkan umat di tengah “gemuruh” perubahan zaman. Judul Panyirep sendiri berarti peneduh atau penenang, sementara Gemuruh melambangkan riuhnya perjuangan. Dua kata yang menggambarkan karakter kepemimpinan beliau—teduh dalam akhlak, namun bergemuruh dalam gagasan.

Forum bedah buku akan diawali dengan Taujihat Kepesantrenan oleh Prof. Dr. KH. M. Asrori Alfa, M.A., Pengasuh PP. Al-Mubtadi-ien Bahrul Ulum Tambakberas sekaligus Kepala Pusat Studi Pesantren dan Kawasan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Selanjutnya, Gus Ahsani Fathurrahman, S.M., Ketua Pusat Studi Pesantren Jawa Timur, akan menyampaikan pengantar wacana mengenai relevansi pemikiran Mbah Wahab dalam konteks Muktamar NU.

Diskusi utama menghadirkan Ayung Notonegoro, Founder Komunitas Pegon Banyuwangi, serta Fathul H. Panatapraja, penulis dan Ketua Lesbumi NU Kota Malang. Keduanya akan mengupas isi buku dari perspektif sejarah, budaya, dan tradisi literasi pesantren. Selain itu H. M. Sarmuji, S.E, M.Si juga hadir memberikan sambutan atasnama Tokoh/ Pejabat (DPR RI) sekaligus putra daerah Surabaya. Acara dipandu oleh MS. Ulil Abshor, Redaktur Dawuh Guru.

Lebih dari sekadar peluncuran atau bedah buku, Kopdar Muktamar diharapkan menjadi ruang bertemunya para santri, akademisi, pegiat literasi, dan masyarakat untuk merawat tradisi membaca serta menghidupkan kembali warisan pemikiran para ulama. Sebab, sebagaimana diwariskan Mbah Wahab Chasbullah, peradaban besar selalu lahir dari majelis ilmu yang tak pernah berhenti berdialog.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *