Bursa Ketum PBNU Menghangat, Empat Nama Dinilai Berpeluang Menguat Jelang Muktamar ke-35

  • Bagikan
Bursa Ketum PBNU Menghangat, Empat Nama Dinilai Berpeluang Menguat Jelang Muktamar ke-35

JAKARTA — Persaingan menuju kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai memasuki fase yang semakin menarik. Menjelang Muktamar ke-35 NU, sejumlah nama mulai mencuat dan diprediksi memiliki peluang untuk menguat dalam perebutan posisi pucuk pimpinan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27–29 Agustus 2026. Di tengah semakin dekatnya agenda lima tahunan tersebut, bursa calon Ketua Umum PBNU pun semakin ramai diperbincangkan.

Founder Citra Institute, Yusak Farchan, melihat terdapat sejumlah figur yang memiliki modal kepemimpinan cukup kuat untuk bersaing. Dari sekitar enam hingga delapan nama yang beredar, menurutnya, masing-masing memiliki kelebihan dan tantangan tersendiri.

Namun, Yusak menilai kebutuhan NU ke depan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengelola organisasi secara internal. Tantangan global yang semakin kompleks menuntut Ketua Umum PBNU memiliki wawasan internasional, kemampuan diplomasi, serta jejaring yang luas.

“Ketua Umum PBNU ke depan tidak cukup hanya memiliki kemampuan mengelola organisasi dan jejaring internal, tetapi juga perlu memiliki pengalaman diplomasi internasional serta rekam jejak global,” ujar Yusak.

Empat Nama yang Mulai Diperhitungkan

Dari sejumlah figur yang muncul, Yusak menyebut empat nama yang dinilainya layak mendapat perhatian lebih dalam dinamika menuju Muktamar ke-35.

Keempatnya adalah KH Nasaruddin Umar, KH Zulfa Mustofa, KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, dan KH Marsudi Syuhud.

Menurut Yusak, keempat tokoh tersebut memiliki pengalaman kepemimpinan dan rekam jejak organisasi yang dapat menjadi modal penting dalam memimpin PBNU.

Selain pengalaman di internal organisasi, mereka juga dinilai mempunyai perhatian terhadap isu dialog antaragama dan hubungan antarperadaban. Kapasitas tersebut menjadi semakin relevan ketika NU dituntut memainkan peran lebih besar dalam percaturan Islam dan dunia internasional.

“Nama-nama seperti KH Nasaruddin Umar, KH Zulfa Mustofa, KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), dan KH Marsudi Syuhud saya kira sangat layak dipertimbangkan sebagai Ketua Umum PBNU,” kata Yusak.

Ia menilai, salah satu tantangan utama kepemimpinan PBNU mendatang adalah bagaimana membawa karakter Islam moderat khas Indonesia agar semakin dikenal dan berpengaruh di tingkat global.

Dengan demikian, Muktamar ke-35 NU tidak sekadar menjadi momentum pergantian kepemimpinan organisasi. Lebih dari itu, forum tersebut akan menjadi ruang penting untuk menentukan arah perjalanan NU menghadapi perubahan zaman, dinamika geopolitik, serta tantangan umat yang semakin kompleks.

Semakin dekatnya pelaksanaan Muktamar membuat peta dukungan terhadap para kandidat berpotensi terus berubah. Nama yang hari ini diperhitungkan belum tentu menjadi pemenang, karena keputusan akhir tetap berada di tangan para pemilik suara dalam forum Muktamar.

Satu hal yang jelas, menjelang Muktamar ke-35, pertarungan gagasan dan kepemimpinan di tubuh NU mulai memasuki babak yang semakin menentukan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *